Picha Pik

Banyak yang tanya kesibukan saya sehari-hari. Saya adalah:

  • Istri dari suami yang ga ada duanya (iyalah, ada yang mau suaminya sama dengan saya? :D)
  • blogger (obviously)
  • freelance arsitek (awal saya terdampar di Bali karena saya bekerja sebagai arsitek di salah satu konsultan), sekarang sedang mengerjakan satu proyek di Bali dan satu proyek di luar Bali. Untuk kerjaan arsitektur, saya sedang mencoba membatasi karena….
  • ….saat ini sedang baru memulai bisnis fotografi.

Fotografi bukan hal yang baru untuk saya. Beberapa tahun yang lalu saya sempat bekerja sebagai fotografer wedding di salah satu perusahaan di Bali. Itu setelah saya resign dari konsultan arsitektur tempat saya bekerja karena beban kerjanya yang sangat tidak fertility friendly. Tapi ternyata menjadi fotografer wedding jauuuuh lebih parah :)). Akhirnya saya tidak bertahan lama bekerja di sana dan sibuk menjadi freelance arsitek.

Beberapa bulan terakhir ini, banyak teman yang meminta saya untuk mendokumentasikan liburan mereka di Bali. Ternyata saya merasa bahwa fotografi adalah hal yang (masih) menyenangkan untuk saya. Akhirnya, atas dukungan teman-teman dan suami pastinya, saya putuskan untuk kembali berkiprah di bidang ini.

Saya tidak ingin kembali memotret wedding karena pressure-nya yang ga banget (apalagi dulu 95% saya menangani wedding internasional customer). Tapi saya paling suka memotret wajah, senyum, aktivitas orang, dan lainnya. Jadi, saya putuskan membuat konsep yang (menurut saya) baru, yakni fotografi khusus POST-wedding ( pasangan yang sudah menikah, apakah itu pengantin baru atau pengantin lama) dan fotografi keluarga. Maka lahirlah Picha Pik.

EDIT_IMG_7918

Saat ini Picha Pik masih beroperasi di sekitar wilayah Bali saja. Kabar bagus untuk kamu yang tinggal di Bali dan ingin mengabadikan momen bersama keluarga atau pasangan. Tapi untuk kamu yang tinggal di luar Bali, khususnya Bandung, jangan khawatir….Karena dalam waktu dekat Picha Pik akan mengadakan mini photo session di sana dengan harga yang sangat-sangat terjangkau. 

MILA 01

Untuk informasi lebih lengkap tentang promo dan kegiatan kami, silakan bergabung di facebook dan twitternya ya. Di facebook saya sedang mengadakan proyek ‘Bali 365’ di mana setiap hari saya akan memuat satu foto tentang Bali. Jangan ketinggalan! Main-main ke website-nya juga ya…Tiada kesan tanpa kehadiranmu🙂.

IMG_0685

facebook twitter

 

Yang hangat, yang hangat…

Salah satu hal yang disarankan pada saat program kehamilan adalah menjaga kondisi tubuh tetap hangat. Mirip lah kurang lebih teorinya sama ayam, kalau mau punya anak telurnya harus dierami supaya hangat😀. Makanya kalau lagi program hamil, apalagi yang suhu badannya relatif rendah seperti saya, ga boleh makan atau minum yang dingin-dingin. Ga ada alasan biarpun udara sepanas di Bali. Minimal makanan atau minuman yang dikonsumsi harus di suhu ruang, ga boleh langsung dari kulkas apalagi pakai es. Teorinya, tubuh kita ga bisa langsung mencerna makanan/minuman yang terlalu dingin, jadi tubuh harus menghangatkannya dulu, dan dalam proses menghangatkan itu butuh energi yang besar. Jadi, makanan/minuman dingin akan menguras energi kita terlalu banyak. Terutama di masa-masa setelah ovulasi, di mana temperatur tubuh diharapkan naik terus.

Pada waktu di akupuntur, biasanya Juliana akan menggunakan moksa untuk menghangatkan tubuh pasiennya. Moksa adalah semacam tembakau yang akan ditempelkan ke ujung jarum dan kemudian dibakar untuk menghantarkan panas ke tubuh.

Seperti ini nih fotonya:

Horor ga ngelihatnya? Tapi rasanya enak kok…Badan jadi hangat setelah akupuntur plus moksa. Sebetulnya metoda moksa macam-macam, ada juga garam moksa, yakni antara kulit dan moksa perantaranya bukan jarum, tapi garam, jadinya panasnya lebih cepat mengalir ke tubuh.

Sebetulnya Juliana menyarankan saya untuk melakukan moksa sendiri di rumah untuk menghangatkan area sekitar perut. Cuma, saya pikir-pikir, males juga. Abunya kemana-mana, belum lagi asapnya. Bisa bau banget deh rumah kalau saya moksa setiap hari. Alternatifnya, ada juga yang lebih modern, yaitu pakai lampu infrared.

Pengen sih beli…Tapi harganya lumayan, sekitar 400-500 rb. Mengingat bulan ini pengeluaran untuk baby program sudah lumayan buanyaaaaak (beli herbs, progesterone cream, vitamin) belum lagi pengeluaran non program hamil, jadi kayanya ditunda dulu deh….Mungkin kalau bulan depan masih belum hamil (semoga ga kejadian hihihi) insha Allah akan dialokasikan dana untuk beli lampu ini. I think it’s worth the price.

Jadi sementara, kita pake yang gratisan aja ya: SUNSHINE!!! hehehe….

Setiap pagi untuk menghangatkan perut, saya biasanya jemuran sekitar 15-20 menit. Sebetulnya ga bisa dibilang jemuran juga sih karena dilakukan indoor. Alhamdulillah rumah saya menghadap ke timur (kriteria pertama waktu mau beli rumah :D), jadi matahari pagi bisa bebas masuk ke rumah. Tahu ga, jemuran ini bagus loh untuk yang lagi pada program hamil. Vitamin D adalah salah satu vitamin yang dibutuhkan untuk menghasilkan telur yang sehat. Bisa sih didapat dari susu, tapi susu jaman sekarang kan sudah jarang yang organik, dan tetap sumber terbesar vitamin D adalah sinar matahari. Katanya, untuk kamu-kamu yang PCO, vitamin D akan membantu menormalkan ovulasi bulanan. Untuk yang suaminya bermasalah dengan sperma, ayo mulai besok tarik ke halaman untuk berjemur, karena vitamin D juga akan meningkatkan konsentrasi+motilitas sperma.

And the best of all, it’s free! Jadi hitam…siapa takut (kan mau hamil :D)…

 

Story of My Life

Oke, mungkin ada beberapa di antara pengunjung blog ini yang komentar, “Ini yang punyanya gimana sih? Update, ga update, update, ga update @___@…”

Hehehe…maap ya. Untuk yang sama-sama punya masalah infertiliti pasti bisa ngerti gimana ups and downs-nya program hamil ini. Kadang-kadang saya suka mikir juga, sebetulnya sebaiknya bagaimana ya, apakah ikhtiar sekuat tenaga atau cuma pasrah aja? Karena mau jungkir balik kaya bagaimanapun, kalau Allah SWT belum ‘kun fayakun’ pun ga akan jadi program hamilnya. Tapi karena saya selalu teringat salah satu ayat Al-Qur’an ini: “…tidak ada yang berputus asa atas rahmat Allah SWT, selain orang yang sesat. (QS.15:56), juga kisah   Hajar AS yang harus bolak balik  ke Bukit Safa dan Marwah sampai tujuh kali sebelum air zamzam keluar, akhirnya saya berkesimpulan bahwa ikhtiar harus jalan terus, tanpa lupa dengan keyakinan bahwa Allah SWT adalah yang Maha Berhak menentukan kesuksesannya.

Selama ini blog-nya off dulu karena ada kejadian ga terduga yang termasuk di kategori DOWN DOWN DOWN. Secara pribadi saya ikhlas dengan apapun yang terjadi, seperti kata Umar Bin Khattab RA, “Aku tidak peduli apakah aku terbangun di pagi hari dalam kondisi baik atau buruk, karena aku tidak mengetahui apakah yang baik atau buruk untuk diriku.” Tapi untuk share di blog dan harus mengulang lagi semua peristiwa yang terjadi, pastinya butuh waktu, juga energi dan emosi ekstra…

Emang ceritanya apaan sih?

9 Februari 2013

Saya masih ingat banget tanggalnya karena hari itu hari ulang tahunnya Juliana. Seperti biasa saya dan suami berangkat pagi-pagi ke Bumi Sehat untuk akupuntur rutin. Hari itu adalah hari ke-9 siklus mens. Kebetulan hari itu ada dokter ginekolog yang datang dari Australia (perempuan). Juliana mengajak saya USG untuk mengecek ukuran folikel, mumpung dokternya perempuan. Ga disangka-sangka, dokter malah menemukan kista besaar di ovarium kiri saya (8cm). Kami berdua kaget karena terakhir saya USG (sudah beberapa tahun yang lalu sih) semuanya bersih, grafik BBT saya juga sangat bagus, dan saya ga pernah punya masalah mens seperti sakit yang berlebihan atau mens ga teratur.

Juliana menyarankan saya untuk mencari 2nd opinion ke dokter lain. Menurutnya untuk ukuran sebesar itu, solusinya sebaiknya dioperasi atau minimal laparoskopi. Memang banyak yang bilang kalau bisa diatasi dengan pengobatan alternatif. Tapi Juliana ragu dengan keefektifannya untuk ukuran seperti ini, dan berwarna kecoklatan pula. Rasanya seperti habis dicium Dementor. Hari yang sebelumnya diawali dengan bersemangat jadi berubah seketika, karena kemungkinan besar saya harus merelakan ovarium kiri saya diangkat.

11 Februari 2013

Kami berkonsultasi dengan dokter yang direferensikan oleh Juliana. Kali ini saya mau ga mau menurut kata-kata beliau untuk berkonsultasi ke dokter laki-laki. Dokter menyarankan saya untuk operasi, karena kista ini adalah kista coklat (endometrosis) dan ukurannya terlalu besar untuk laparoskopi.

Keluarga menyarankan agar operasi dilakukan di Bandung supaya ada keluarga yang mendampingi saya pasca operasi, dan fasilitas kesehatan di sana juga lebih mumpuni.

14 Februari 2013

Pulang ke Bandung.

15 Februari 2013

Konsultasi dengan dokter. Dokter yang direkomendasikan oleh keluarga adalah dokter ginekolog yang juga spesialis onkologi. Operasi dijadwalkan tanggal 18 Februari 2013.

18 Februari 2013

Operasi! Semoga ini adalah operasi saya yang pertama dan terakhir (kecuali kalau hamil dan musti caesar sih gapapa ya :D). Singkat cerita ovarium sebelah kiri harus diambil😦, dokter juga menemukan kista di ovarium kanan biarpun ukurannya kecil, dan miom di rahim. Busyet dah. Saya heran juga kenapa benda-benda itu bisa bersarang ke badan saya, mengingat saya selalu berhati-hati soal makanan dan menjalani gaya hidup sehat. Tapi jodoh, mati, rejeki memang bukan kita yang ngatur ya. Sebelum operasi saya sempat berpikir untuk titip pesan ke dokternya, “Dok, tolong dong sebisa mungkin jangan ambil ovarium kiri saya.” Tapi saya pikir-pikir lagi, pertama, saya ga akan menggantungkan nasib saya kepada manusia, dan kedua, saya ga tau apakah yang terbaik menurut Allah SWT adalah saya tetap bisa memiliki dua ovarium atau satu aja cukup. Jadi, pasrah. Titik. Dan itu memang yang terbaik.

Bahkan setelah operasi selesai dan saya mulai sadar, kata-kata yang pertama saya ucapkan adalah,”Diambil ga (ovariumnya)?”. Please tell me, I just want to know. Ibu saya yang menemani di samping saya cuma memegang tangan saya dan bilang, “Ya, diambil, gapapa…”. Herannya mendengar itu saya ga merasa sedih sama sekali. Mungkin juga karena rasa sakit pasca operasi mengalahkan perasaan sedih. Bisa juga. Saya cuma ngerasa kedinginan dan kesakitan luar biasa. Tapi saya merasa bersyukur bisa diberi kesempatan merasakan sakit seperti itu. Ibu saya terus menyemangati saya, “Sabar, ini penggugur dosa…” Ya Bu….

Yah itulah singkat cerita saudari-saudari sekalian kenapa saya libur dari dunia per-blog-an selama beberapa waktu. Alhamdulillah saya recover sangat sangat cepat. Sehari setelah operasi saya bisa langsung jalan-jalan dan dua minggu setelah operasi, saya ga keberatan sama sekali waktu hubby mengajak saya snorkeling😀.

Untuk ovarium yang diambil? Insha Allah saya ikhlas. Saya anggap itu sebagai voucher yang bisa ditukar di akhirat nanti🙂. Lagian, toh punya dua tanpa kista pun juga ga membantu saya hamil kan? Ujung-ujungnya semuanya adalah ketetapan Allah SWT, dan kita cuma harus tunduk dan patuh.

Juliana menyarankan saya untuk segera memulai program hamil lagi untuk menghindari tumbuhnya kista endometrosis. Saya harus berhenti sama sekali makan semua makanan yang terbuat dari kedelai, minuman kemasan termasuk air putih di botol/gelas plastik, dan makanan-makanan yang sifatnya estrogenic. Alhamdulillah, bulan lalu saya melakukan USG trans V (terpaksa, I have no choice >__<) dan folikel di my single fighter right ovary ukurannya 17.3 mm, which is good! Tapi karena belum rejeki, bulan ini saya masih mens.

Anyway, semua kejadian ini saya anggap sebagai pelajaran dan peringatan dari Allah SWT, bahwa hamil atau ga hamil itu adalah murni kehendak Allah SWT. Bukan karena akupuntur, bukan karena Juliana, bukan karena herbs, bukan karena dokter, bukan karena olahraga, bukan karena makanan sehat dsb. Ampuni aku ya Allah, jika selama ini hambaMu khilaf terhadap kenyataan ini. I learned it the hard way.

Cara….ehm :)

“Did I tell you how to have sex?”, tanya Juliana.

“Well, not yet.” Tell me tell me :)).

  • Perempuan di bawah adalah cara yang paling bagus untuk mereka yang ingin hamil. Sebetulnya, posisi bisa aja berubah-rubah selama ‘acara’ berlangsung😀. Yang penting, saat ejakulasi perempuan harus di bawah.
  • Jangan lewatkan foreplay karena itu akan membuat suasana lebih santai dan bebas stress.
  • Usahakan saat ejakulasi bokong diganjal dengan bantal, dan usahakan penetrasi sedalam mungkin. Jangan langsung cabut, tapi tunggu hingga beberapa menit. Tetap dalam posisi berbaring dengan bokong diganjal bantal hingga minimal 20 menit.
  • Saat ejakulasi, apabila terjadi orgasme, maka itu akan membantu sperma untuk bergerak lebih cepat. Tapi jika tidak orgasme, ga usah stress…Lakukan aja senam kegel untuk membantu pergerakan sperma.
  • Karena jumlah dan pergerakan sperma hubby kurang memenuhi syarat, maka sebaiknya hingga masa subur ( untuk saya sekitar hari ke 12-16, tapi ini bisa berbeda untuk setiap orang) ga boleh berhubungan dulu ya….Ouuuuch…Kasian deh suamiku :)). Tapiiii, bermesra-mesraan boleh aja, dan malah disarankan. Karena katanya setiap Mr.P ereksi, itulah saat sperma diproduksi. Yang penting, keep it inside….Sampai ketemu di hari ke-12 nantiii…:D

Tips lagi untuk para hubbies, sebaiknya mengganti CD menjadi boxer yang longgar dan jangan pakai CD seperti yang dipakai Spongebob. It’s not fertility friendly. Memang mungkin butuh adaptasi supaya terbiasa, suami saya pun begitu. Tapi sekarang, dia malah lebih suka pakai boxer dan ga mau balik lagi pakai CD Spongebob. Kalau untuk saya sih, emang lebih enak dilihat kok, daripada begini….:D

Ini Ceritaku, Mana Ceritamu?

Untuk kamu-kamu yang ingin ngobrol lebih panjang, silakan kirim email ke sini: mybabyprogram@gmail.com

Insha Allah, semoga saya diberi kelapangan waktu untuk membalas satu-satu.

Saya juga akan sangat berterimakasih apabila ada yang mau menceritakan kisah suksesnya (tergantung definisi masing-masing tentang sukses :D), untuk menjadi bahan penyemangat dan pembelajaran untuk saya dan teman-teman yang lain.

Ditungguuuu…Tiada kesan tanpa kehadiranmu.🙂

Let’s Move On!

Hola!

1. Besok anniversary saya+hubby loh…Woohooo….Doain ya semoga sakinah mawaddah warahmah terus. Dan pastinya…segera dikaruniai momongan yang udah lama ditunggu-tunggu🙂.

2. Bulan ini adalah siklus kedua program saya bareng Juliana, karena minggu lalu saya dapet mens…Tapi gapapa, ngelihat dari BBT chart-nya saya memang sudah siap untuk mens. Mens bulan ini ga pake PMS, ga terlalu sakit, dan saya ngerasa fit kaya hari-hari biasa aja. Saya rasa (dan dikonfirmasi juga oleh Juliana), karena selain treatment akupuntur dan herbs, saya juga sudah mulai rajin berolahraga setiap hari. Karena saya memulai di hari setelah ovulasi, jadi saya pilih olahraga yang ringan seperti Qi Gong dan Yoga.

Berasa banget loh efeknya…Badan jadi fresh, ga gampang cape, dan lebih hangat. I like it I like it!

Setelah mens selesai, Juliana meminta saya untuk berolahraga yang lebih high impact dan lebih lama, sampai kira-kira ovulasi terjadi. Oia, kebetulan waktu ovulasi saya bulan ini bertepatan dengan waktu liburannya beliau, jadi ga ada akupuntur deh di waktu penting itu😦. Tapi Juliana sudah meresepkan bejibun herbal untuk membantu ovulasi, anyway….human cannot create human. Tetap musti ingat bahwa hamil atau ga hamil itu hak prerogatifnya Allah ya🙂. Lagian, saya sudah cukup senang karena menurut Juliana, saya ga perlu melakukan USG trans V dulu bulan ini. Mungkin dia bisa membaca muka stress saya ya setiap disinggung-singgung tentang USG trans V :)).

Sejak beberapa hari yang lalu, saya sudah mulai rutin berolahraga high impact. Badan jadi enaaaaak deh…Segerrrr! Ciyus! Karena saya males untuk keluar dan musti beli-beli outfit olahraga khusus (hahaha alasan), jadi pilih olahraganya yang indoor aja ah. Banyak kok yang bisa dilakuin. Pilihan saya ada di 3 video cardio ini. Dijabanin tida-tiganya setiap hari dan disambung dengan morning yoga. Total waktunya? Cuma sekitar 30-40 menit aja kok….Yuk ah!