Kun Fayakun

Sore ini untuk melengkapi ‘koleksi’ suplemen yang dibutuhkan untuk program hamil, saya pergi ke apotek mencari beberapa suplemen yang kurang, salah satunya adalah Evening Primrose Oil. Setelah bertransaksi dan balik ke mobil, oh oh, saya baru sadar kalau ternyata Evening Primrose Oil yang saya beli ‘terbungkus’ oleh kapsul softgel dan dengan jelas tertulis bahan pembuatnya adalah GELATIN.

Masalahnya? Masalahnya adalah 80% gelatin yang terdistribusi di dunia terbuat dari bahan baku babi yang jelas-jelas HARAM bagi saya, seorang muslim. Kalau dalam kemasan tersebut tidak tertulis gelatin itu halal atau aman untuk vegetarian, maka sudah jelas gelatin itu terlarang. Saya lalu kembali ke dalam apotek, menanyakan apakah ada merk Evening Primrose Oil yang kapsulnya bukan softgel? Ternyata tidak ada, walaupun ada banyak alternatif merk yang tersedia di sana. Alhamdulillah, pihak apotek dengan baik hati mengijinkan saya mengembalikan produk yang baru saja saya beli itu.

Ada lagi beberapa suplemen yang harus saya coret dari daftar karena alasan yang sama, salah satunya adalah minyak ikan. Lihat saja di apotek-apotek, semua produk minyak ikan terbungkus dari kapsul softgel. Akhirnya untuk alternatif pengganti saya menggunakan Scott Emulsion sirup, yang semestinya adalah vitamin untuk anak-anak. Sama kasusnya dengan vitamin E. Tapi alhamdulillah untuk vitamin E ada beberapa merk yang menyediakan ‘hard kaplet’ bukan softgel. Saya agak sedikit kecewa karena harus menghapus beberapa suplemen itu dari daftar saya, karena menurut testimonial banyak orang, suplemen-suplemen itu sangat bagus untuk mereka yang sedang merencanakan kehamilan dan bisa membantu menstabilkan hormon. Tapi dipikir-pikir, yang menciptakan bumi, alam semesta dan isinya hanyalah Allah SWT. Tidak ada yang lain. Jadi saya terus berpikiran positif bahwa dengan menghindari makanan-makanan haram Allah SWT justru akan lebih memudahkan dan meridhoi ikhtiar saya.

Pernah juga saya membaca di internet bahwa ada satu obat China yang terkenal ampuh untuk menyuburkan kandungan. Karena saya sangat ingin hamil, tanpa berpikir panjang saya membelinya di salah satu toko obat China di Indonesia dan mengkonsumsinya. Untungnya cuma sekali itu saja, karena waktu suatu hari saya mampir ke Singapura dan berencana membeli obat itu lagi di sana, jawaban sales person-nya cukup mengagetkan: “All chinese fertility supplements for women contain animal paste, they are not halal.” Gubrag. Astaghfirullah. Artinya apa? Mungkin ya obat itu tidak terbuat dari babi, tetapi terbuat dari unggas. Cara penyembelihannya-lah yang bermasalah. Kita semua sebagai orang muslim pasti tahu bahwa apabila binatang disembelih dengan cara yang tidak sesuai syariah berarti binatang tersebut didefinisikan sebagai BANGKAI.

Yang membuat saya terkejut dan sekaligus kagum adalah: 1) Sales person di toko obat China itu begitu jujur. Dia tidak mementingkan keuntungan semata dengan tidak menyembunyikan hal yang sebenarnya. 2) Singapura yang notabene bukan negara dengan penduduk mayoritas muslim memiliki aturan yang jelas untuk memisahkan antara produk halal dan produk haram. Lah Indonesia?

Saya sangat merindukan kehamilan di usia pernikahan yang sudah berjalan 6 tahun ini. Hampir seluruh cara ingin saya coba. Katanya makan/minum ini bagus, katanya terapi ke si anu bisa sukses, katanya dokter ini jago banget mengobati infertilitas. Kadang-kadang ada cara-cara atau tips-tips yang sudah jelas haram seperti yang saya ceritakan tadi, atau minimal makruh, dan saya tetap tergelitik untuk ingin mencobanya. Hati saya seakan-akan ingin bandel dan berkata, “Gapapa deh ya Allah, siapa tahu ampuh?”

Tapiiii, saya balik menanyakan ke diri saya sendiri. Sebenarnya apa sih tujuan kamu hidup? Apa tujuan kamu menikah? Dan jawabannya sudah jelas seperti tercantum di Al-Qur’an, tujuan kita diciptakan di dunia ini cuma satu: menyembah Allah SWT dan tunduk patuh hanya kepadaNya saja. Sehingga seluruh aktivitas kita seharusnya diniatkan sebagai sarana untuk beribadah kepadaNya. Termasuk menikah. Tujuan pernikahan bukanlah untuk mendapatkan keturunan. Tujuan Allah SWT memerintahkan hamba-hambanya untuk menikah adalah untuk bersama-sama dengan pasangan kita, saling mengingatkan dan bergotong royong untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT hingga suatu hari nanti kita berhasil berpulang ke surgaNya. Kalau tujuan menikah hanya untuk mendapatkan keturunan, betapa rapuhnya pernikahan itu. Seakan-akan kita bisa berkata, “Sama kamu saya ga berhasil punya anak, saya ganti aja deh pasangannya dengan yang lain”. Ketika dengan yang lain pun gagal, alasan yang sama pun dipergunakan untuk memperoleh tujuan yang salah itu.

Jadi apakah layak kita mengingkari aturan Allah SWT dengan mengkonsumsi makanan-makanan yang haram bahkan mungkin juga menggunakan cara-cara yang mendekati syirik cuma dengan alasan ikhtiar ingin memperoleh keturunan. Audzubillahimindalik!

Di dalam Al-Qur’an Allah SWT sudah dengan sangat gamblang memaparkan kuasaNya, bahwa Dia-lah yang bisa membuat Nabi Ibrahim AS dan Nabi Zakariya AS memiliki keturunan, padahal istri mereka masing-masing sudah sangat tua dan mandul. Lebih hebat lagi hanya Dia-lah yang bisa membuat Siti Maryam AS memiliki keturunan, padahal ia tidak bersuami. Hanya Allah SWT, Maha Kuasa, Maha Pencipta, Pemilik langit dan bumi, yang mampu melakukan itu. Ketika Allah SWT sudah mengucapkan ‘kun fayakun’ tidak ada yang mampu menolaknya. Apakah itu LPD, kista, miom, PCO, umur yang lanjut, kurang sperma, mandul, unexplained fertility, bahkan tidak memiliki rahim atau tidak memiliki suami sekalipun!

Sudah jelas pula contoh-contoh di Al-Qur’an bahwa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Zakariya AS akhirnya berhasil memiliki keturunan, bukan karena mengkonsumsi Evening Primrose Oil atau Omega 9 atau Omega 3 atau obat China atau whatever. Tapi karena mereka tidak pernah berhenti berdoa, mendekatkan diri kepada Allah SWT dan selalu berprasangka baik kepadaNya. Hingga akhirnya Allah SWT ridho dengan mereka dan menganugerahi mereka dengan keturunan yang sholeh, yang terbaik. Ya, itu kan yang kita mau.

Ibu apotek, maaf ini saya kembalikan suplemen yang baru saja saya beli, dan tidak, saya tidak tertarik untuk membeli minyak ikannya. Saya hanya akan berikhtiar dengan cara-cara yang halal karena saya yakin hal itulah yang akan membuat Allah SWT mengabulkan doa saya. Dan hak-Nya lah apakah Allah SWT memilih untuk mengabulkan doa saya di dunia, atau menundanya di akhirat nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s