A Wedding And One Success Story

Weekend lalu adikku nikah. Alhamdulillah. Congrats ade!

Btw, gara-gara itu aku terpaksa pakai sepatu hak tinggi seharian. Pegeeeel….Ada pengaruhnya ga ya buat kandungan? Hehehe teuteup.

Kalau lagi acara kumpul-kumpul keluarga gitu, pasti deh banyak yang tanya-tanya. Momongannya mana? Kok belum ada? Hush ah, berisik. Ini juga lagi usaha. Sebenarnya dengan jam terbang selama 6 tahun, saya pastinya udah berpengalaman untuk menangkis komentar-komentar semacam itu. Tipsnya, jawab aja dengan manis dan santai. Jangan dianggap serius dan dibikin BT, rugi sendiri. Kadang-kadang kalau lagi capek ditanya-tanya, suka juga sih keluar jawaban ngasal. Jawaban saya yang paling ngasal contohnya: “Sebenarnya kemarin-kemarin udah ada momongan 2, tapi sekarang udah mati 2-2nya.” Kontan si penanya langsung shock wajahnya, dan buru-buru saya klarifikasi, “Itu loh, kelinci peliharaan…”, hahahaha makanya jangan nanya-nanya!😉

Oiya, saya ketemu siapa coba di acara nikahan kemarin. Kamu ga kenal sih. Tapi sini saya kenalin.

Sebut aja namanya Mbak Nana (bukan nama sebenarnya). Beliau ini mantan istrinya sepupu saya. Mereka baru bercerai sekitar tiga tahun yang lalu, entah karena masalah apa. Yang jelas mereka berdua selama sekitar 10-11 tahun menikah, belum dikarunia momongan, dan Mbak Nana belum pernah hamil sekalipun. Masalah kesuburannya sepertinya sih ada di mereka berdua. Khusus Mbak Nana, beliau pernah dioperasi kista beberapa kali. Dan selama tahun-tahun pernikahan mereka, mereka sudah mencoba berbagai macam ikhtiar untuk memiliki keturunan, tapi semuanya ga berhasil. Ikhtiar terakhir yang mereka coba adalah bayi tabung, yang menghabiskan rupiah yang sangat banyak. Itupun gagal. Yang paling parah, entah karena sebab apa (tapi dicurigai karena proses bayi tabung), Mbak Nana akhirnya divonis kanker rahim. Ini terjadi setelah Mbak Nana dan sepupuku baru aja bercerai. Duuuh, waktu mendengar kabar itu saya ikut merasakan sedih. Mbak Nana yang cantik, yang baik, yang lembut, yang menyenangkan, kenapa harus melewati cobaan seberat itu yaaa.

Terakhir kami bertemu adalah pada saat meninggalnya Pakde saya yang sekaligus adalah mantan mertua beliau, sekitar 3 tahun yang lalu. Waktu itu beliau pernah bertanya, “Kapan nih punya momongan?”. Berbeda dengan penanya-penanya lainnya, pertanyaan dari Mbak Nana ga membuat saya terganggu karena saya tahu dia pun merasakan hal yang sama, bahkan lebih berat. Saya hanya menjawab santai, “Mbak Nana dulu aja deh.” Mbak Nana cuma tersenyum, “Wah, kalau nunggu Mbak kayanya kelamaan deh…”

Tahun berlalu, akhirnya saya bertemu lagi dengan Mbak Nana yang sudah kembali menikah (sepupu saya pun sudah menikah), dan sekarang beliau sedang hamil 8,5 bulan! Subhanallah…..Waktu pertama kali melihat Mbak Nana yang terlihat lebih chubby dengan perutnya yang besar, saya tidak bisa menyembunyikan rasa terharu saya. “Mbak Nana selamat! Apa nih rahasianya?”. Ia menjawab lembut, “Ga tau nih, udah ga berharap sama sekali padahal, tapi ternyata malah jadi.” Aah Mbak Nana, alhamdulillah, semoga kehamilannya dan persalinannya lancar ya Mbak. I’m soo happy for you!

Suami saya pun tidak kalah excited bertemu dengan Mbak Nana. Dan sepulangnya dari acara pernikahan, saya bilang ke suami kalau saya ngerasa lebih semangat dan optimis karena baru ketemu dengan Mbak Nana. Beliau usianya lebih tua, masalahnya pun lebih kompleks, tapi harapan untuk memiliki keturunan ternyata masih ada. Suami cuma tersenyum dan menjawab kalau kita harus optimis bukan karena melihat pengalamannya Mbak Nana aja. Tapi lihat juga mereka, pakde bude, om tante, yang hingga masa tuanya ga dikaruniai momongan tapi tetap rukun, harmonis dan saling menyayangi. Atau lihat juga kerabat yang istrinya harus diangkat rahimnya sehingga harapan untuk memiliki keturunan sudah terputus, tapi itu justru lebih mendekatkan mereka satu sama lain, dan yang paling penting lebih mendekatkan mereka kepada Allah SWT. Keturunan itu bukan tujuan pernikahan. Tujuan pernikahan adalah untuk saling mendukung pasangannya mencapai kebahagiaan dunia akhirat.

Rasanya mendengar jawaban itu saya ga tahan untuk ga memeluk suami saya. Makasih Sayang, kamu adalah salah satu orang yang paling berenergi positif dan paling bijaksana yang pernah saya temui. Dan saya sangat beryukur Allah SWT menakdirkan kamu untukku. I love you because of Allah. Semoga ada atau tidak ada keturunan, kita akan selalu kompak ya🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s