Waspada Xenoestrogen! (Part 2)

Xenoestrogen, zat kimia yang bersifat seperti estrogen, mengancam kita dari mana-mana. Paraben dan phtalates – dua bahan kimia yang mengandung xenoestrogen- adalah bahan yang umum digunakan di setiap produk skin care, kosmetik dan produk rumah tangga. Coba aja cek body lotion, conditioner, krim wajah di rumah kamu masing-masing. Kemungkinan besar kamu akan menemukan paraben di komposisi produknya. Untuk phtalates, mungkin kamu ga akan menemukannya dengan mudah, karena phtalates tersembunyi di bahan ‘fragrance.’

Makanan dan minuman yang dikemas di dalam plastik, terutama pada saat panas, juga adalah salah satu sumber penyebaran progesteron. Begitu juga dengan banyak produk daging yang beredar di pasaran. Banyak peternak, untuk menggemukkan hasil ternak mereka, menyuntikkan hormon atau memberi pakan yang mengandung hormon kepada ternak-ternak mereka.

Awalnya saya agak protes, kayanya teman-teman saya yang, misalnya, memakai produk kecantikan atau produk rumah tangga yang sama, anaknya banyak aja tuh. Tapi saya pikir-pikir, bisa jadi memang respon tubuh setiap orang berbeda-beda.Dan tau ga…Apabila kite terkontaminasi zat kimia melalui makanan/minuman, zat itu akan melalui liver dulu dan jika liver kita sehat akan menyaringnya sebelum didistribusikan ke seluruh tubuh. Sebaliknya, kalau kita terkontaminasi lewat kulit, ga ada penyaring sama sekali sehingga zat kimia itu akan langsung terserap oleh tubuh.

Saya berusaha menganalisa seperti ini:

1. Saya dan suami selalu menerapkan gaya hidup sehat dan menjauhi gaya hidup yang bisa menyebabkan infertilitas. Kami tidak (amit-amit) merokok, minum alkohol, apalagi drugs. Kami rajin berolahraga dan mengkonsumsi makanan sehat, apalagi setelah memulai program hamil ini. Setahun bisa dihitung berapa kali kami memakan mie instan atau produk berpengawet lain. Saya hampir selalu memasak makanan sendiri dan sangat jarang menambahkan produk berMSG. Kami juga tinggal di lingkungan yang bersih dan tidak berpolusi. Bahkan sudah beberapa tahun terakhir ini saya pada saat menstruasi tidak menggunakan pembalut biasa yang mengandung dioxin, tapi beralih ke pembalut kain.

2. Sampai saat ini saya masih bingung dengan masalah infertilitas yang saya alami. Saya tidak pernah menderita kista, miom, atau endometrosis, juga infeksi. Saya tidak mengalami penyumbatan di tuba fallopi. Ovulasi saya normal, dan bahkan sering terjadi pembuahan setelah masa subur. Satu-satunya masalah saya (yang baru terdeteksi) adalah luteal phase defect. Sel telur yang telah dibuahi tidak pernah mampu bertahan.

3. Mengingat riwayat kesehatan reproduksi keluarga saya, almarhumah nenek saya meninggal dunia karena kanker payudara (semoga Allah SWT menempatkannya di tempat yang mulia, aamiin). Ibu saya dan 3 adik-adiknya memiliki riwayat kista, miom dan endometrosis. Satu adiknya yang lain pernah mengalami keguguran yang berulang.

Akhirnya dengan analisa itu, saya insha Allah yakin bahwa zat kimia toxic ini adalah tersangka utama penyebab infertilitas pada diri saya, tanpa terlepas bahwa mati, hidup, jodoh dan kelahiran adalah hak prerogatif Allah SWT. Tapi Allah SWT juga berfirman bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga kaum itu merubah nasibnya sendiri. Maka ini adalah bagian ikhtiar saya, saya harus sebisa mungkin menghindari bahan-bahan kimia itu. Bukan cuma karena ingin hamil, tapi melihat lagi riwayat kesehatan keluarga, saya seakan diingatkan untuk lebih berhati-hati. Percuma kan kalau saya memberikan asupan yang sehat ke tubuh saya tapi di waktu yang bersamaan racun juga terus meng-nol-kan usaha saya itu. Ibaratnya seperti meniup balon, tapi di sisi yang lain ada orang jahil yang menusuki balon tersebut dengan jarum.

Terus gimana?

Mau ga mau saya harus mengambil langkah untuk menghindari xenoestrogen ini. Sebetulnya ga terlalu drastis juga, karena ada banyak yang sudah saya mulai berbulan-bulan yang lalu.

1. Mengganti produk rumah tangga dengan produk organik, terutama sabun pakaian dan sabun cuci piring. Harganya ga mahal kok, sekarang banyak yang sudah memproduksi sabun cuci dengan bahan dasar klerak, tanaman yang sudah digunakan selama berabad-abad oleh nenek moyang kita. Produk-produk ini bisa dicari dengan mudah di internet, asli buatan Indonesia lagi🙂. Pelembut pakaian juga adalah sumber utama paraben dan phtalates, jadi say no untuk softener. Saya baca di beberapa website, banyak orang yang kembali ke cara lama, memakai cuka putih untuk melembutkan pakaian. Saya sih belum pernah coba, tapi katanya hasilnya memuaskan dan ga usah khawatir dengan baunya.

Sebetulnya saya jarang mencuci sendiri. Karena di rumah ga ada pembantu, saya selalu menggunakan jasa laundry kiloan. Hasilnya baju-baju saya selalu wangiiiiiiii banget. Malah kadang-kadang terlalu wangi sampai saya dan suami suka pusing dengan wanginya. Eng ing eeeng…Ini dia nih tersangkanya ketawan…Tapi alhamdulillah laundry langganan saya juga menerima jasa menyetrika aja dan saya sudah wanti-wanti untuk ga menambahkan pelembut dan pewangi apapun ke baju-baju kami.

2. Mengganti produk kecantikan. Sejak beberapa bulan yang lalu saya sudah mengganti beberapa produk kecantikan saya, yaitu sabun (menjadi sabun organik, highly recommended, sangat melembabkan), body lotion (menjadi minyak zaitun murni, highly recommended juga, ga lengket dan lembabnya lebih tahan lama) dan sunblock (menjadi sunblock organik). Nah, yang belum dan akan diganti adalah shampoo, bedak, deodorant, lipstik dan lipbalm, odol dan krim wajah. Sebetulnya untuk krim wajah dan body lotion saya sudah ga merasa terlalu butuh karena dari kombinasi sabun organik, pola makan, madu, dan asupan suplemen, udah cukup membuat kulit saya lembab dan ehm, mulus😀.

Untuk rambut, saya memang selalu bermasalah dengan rambut, ga pernah deh nemu produk haircare yang cocok. Masalah saya: rambut rontok. Ini sudah berlangsung lama, sejak jaman UMPTN (dulu namanya UMPTN, sekarang apa ya? :D) sampai sekarang. Dulu saya pikir gara-gara stress menjelang ujian. Tapi ga pernah berhenti sampai sekarang.

Ternyata, weekend lalu saya menemukan salah satu artikel yang membahas ini. Kekurangan progesterone bisa mengakibatkan kerontokan rambut. Tuh kan, tambah satu lagi deh analisanya. Banyak testimonial mereka-mereka yang beralih ke produk-produk organik merasakan efeknya, ke rambut dan juga ke kesuburan🙂.

3. Mengurangi daging, terutama daging merah dan ayam broiler, beralih ke daging rendah lemak seperti ikan air tawar atau ayam kampung. Saya pernah mendapat tips dari salah satu tante saya kalau telur ayam kampung bagus untuk kesuburan, Sekarang tips itu menjadi sangat make sense, karena untuk meningkatkan progesterone kita tetap memerlukan protein hewani, tapi yang tidak mengandung hormon. Nah apalagi pilihannya selain ayam kampung dan telurnya?

4. Mengkonsumsi sayuran yang bebas pestisida. Sayuran lokal seperti daun singkong, kangkung, labu siam, biasanya lebih minim pestisida dibandingkan sayuran ‘mancanegara’. Kalau membeli sayuran yang terbungkus cling wrap, langsung buka pembukusnya begitu sampai di rumah. Lebih bagus lagi kalau belanjanya di pasar tradisional membawa tas belanja sendiri, untuk mengurangi pemakaian plastik.

5. Mengurangi kontak makanan dengan plastik. Memakai wadah keramik atau kaca untuk makanan panas. Makan makanan di tempat jadi ga usah membungkus dengan plastik. Membawa minuman di botol sendiri yang plastiknya food grade, jadi ga usah beli lagi air mineral botolan.

6. Sebetulnya, yang ingin saya coba juga adalah memakai Natural Progesterone Cream. Cream ini bisa membantu mensuplai kadar progesterone untuk mereka yang membutuhkan. Tapi sayangnya, di Indonesia krim ini ga dijual sama sekali. Jadi, kalau ada yang punya informasi produk ini bisa dibeli di mana, kabari saya ya🙂.

Akhirnya saya mengerti kenapa orang jaman dulu anaknya banyak-banyak dan hidupnya lebih sehat. Mereka selalu menggunakan bahan alami untuk skin care, hair care dan homecare, memakan makanan organik dan sehat, juga jauh dari polutan-polutan yang berbahaya. Mau subur dan sehat? Rasanya gaya hidup mereka layak untuk dicontoh🙂.

ps: Untuk lebih lengkapnya baca deh artikel ini.

One thought on “Waspada Xenoestrogen! (Part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s