Story of My Life

Oke, mungkin ada beberapa di antara pengunjung blog ini yang komentar, “Ini yang punyanya gimana sih? Update, ga update, update, ga update @___@…”

Hehehe…maap ya. Untuk yang sama-sama punya masalah infertiliti pasti bisa ngerti gimana ups and downs-nya program hamil ini. Kadang-kadang saya suka mikir juga, sebetulnya sebaiknya bagaimana ya, apakah ikhtiar sekuat tenaga atau cuma pasrah aja? Karena mau jungkir balik kaya bagaimanapun, kalau Allah SWT belum ‘kun fayakun’ pun ga akan jadi program hamilnya. Tapi karena saya selalu teringat salah satu ayat Al-Qur’an ini: “…tidak ada yang berputus asa atas rahmat Allah SWT, selain orang yang sesat. (QS.15:56), juga kisah   Hajar AS yang harus bolak balik  ke Bukit Safa dan Marwah sampai tujuh kali sebelum air zamzam keluar, akhirnya saya berkesimpulan bahwa ikhtiar harus jalan terus, tanpa lupa dengan keyakinan bahwa Allah SWT adalah yang Maha Berhak menentukan kesuksesannya.

Selama ini blog-nya off dulu karena ada kejadian ga terduga yang termasuk di kategori DOWN DOWN DOWN. Secara pribadi saya ikhlas dengan apapun yang terjadi, seperti kata Umar Bin Khattab RA, “Aku tidak peduli apakah aku terbangun di pagi hari dalam kondisi baik atau buruk, karena aku tidak mengetahui apakah yang baik atau buruk untuk diriku.” Tapi untuk share di blog dan harus mengulang lagi semua peristiwa yang terjadi, pastinya butuh waktu, juga energi dan emosi ekstra…

Emang ceritanya apaan sih?

9 Februari 2013

Saya masih ingat banget tanggalnya karena hari itu hari ulang tahunnya Juliana. Seperti biasa saya dan suami berangkat pagi-pagi ke Bumi Sehat untuk akupuntur rutin. Hari itu adalah hari ke-9 siklus mens. Kebetulan hari itu ada dokter ginekolog yang datang dari Australia (perempuan). Juliana mengajak saya USG untuk mengecek ukuran folikel, mumpung dokternya perempuan. Ga disangka-sangka, dokter malah menemukan kista besaar di ovarium kiri saya (8cm). Kami berdua kaget karena terakhir saya USG (sudah beberapa tahun yang lalu sih) semuanya bersih, grafik BBT saya juga sangat bagus, dan saya ga pernah punya masalah mens seperti sakit yang berlebihan atau mens ga teratur.

Juliana menyarankan saya untuk mencari 2nd opinion ke dokter lain. Menurutnya untuk ukuran sebesar itu, solusinya sebaiknya dioperasi atau minimal laparoskopi. Memang banyak yang bilang kalau bisa diatasi dengan pengobatan alternatif. Tapi Juliana ragu dengan keefektifannya untuk ukuran seperti ini, dan berwarna kecoklatan pula. Rasanya seperti habis dicium Dementor. Hari yang sebelumnya diawali dengan bersemangat jadi berubah seketika, karena kemungkinan besar saya harus merelakan ovarium kiri saya diangkat.

11 Februari 2013

Kami berkonsultasi dengan dokter yang direferensikan oleh Juliana. Kali ini saya mau ga mau menurut kata-kata beliau untuk berkonsultasi ke dokter laki-laki. Dokter menyarankan saya untuk operasi, karena kista ini adalah kista coklat (endometrosis) dan ukurannya terlalu besar untuk laparoskopi.

Keluarga menyarankan agar operasi dilakukan di Bandung supaya ada keluarga yang mendampingi saya pasca operasi, dan fasilitas kesehatan di sana juga lebih mumpuni.

14 Februari 2013

Pulang ke Bandung.

15 Februari 2013

Konsultasi dengan dokter. Dokter yang direkomendasikan oleh keluarga adalah dokter ginekolog yang juga spesialis onkologi. Operasi dijadwalkan tanggal 18 Februari 2013.

18 Februari 2013

Operasi! Semoga ini adalah operasi saya yang pertama dan terakhir (kecuali kalau hamil dan musti caesar sih gapapa ya :D). Singkat cerita ovarium sebelah kiri harus diambil😦, dokter juga menemukan kista di ovarium kanan biarpun ukurannya kecil, dan miom di rahim. Busyet dah. Saya heran juga kenapa benda-benda itu bisa bersarang ke badan saya, mengingat saya selalu berhati-hati soal makanan dan menjalani gaya hidup sehat. Tapi jodoh, mati, rejeki memang bukan kita yang ngatur ya. Sebelum operasi saya sempat berpikir untuk titip pesan ke dokternya, “Dok, tolong dong sebisa mungkin jangan ambil ovarium kiri saya.” Tapi saya pikir-pikir lagi, pertama, saya ga akan menggantungkan nasib saya kepada manusia, dan kedua, saya ga tau apakah yang terbaik menurut Allah SWT adalah saya tetap bisa memiliki dua ovarium atau satu aja cukup. Jadi, pasrah. Titik. Dan itu memang yang terbaik.

Bahkan setelah operasi selesai dan saya mulai sadar, kata-kata yang pertama saya ucapkan adalah,”Diambil ga (ovariumnya)?”. Please tell me, I just want to know. Ibu saya yang menemani di samping saya cuma memegang tangan saya dan bilang, “Ya, diambil, gapapa…”. Herannya mendengar itu saya ga merasa sedih sama sekali. Mungkin juga karena rasa sakit pasca operasi mengalahkan perasaan sedih. Bisa juga. Saya cuma ngerasa kedinginan dan kesakitan luar biasa. Tapi saya merasa bersyukur bisa diberi kesempatan merasakan sakit seperti itu. Ibu saya terus menyemangati saya, “Sabar, ini penggugur dosa…” Ya Bu….

Yah itulah singkat cerita saudari-saudari sekalian kenapa saya libur dari dunia per-blog-an selama beberapa waktu. Alhamdulillah saya recover sangat sangat cepat. Sehari setelah operasi saya bisa langsung jalan-jalan dan dua minggu setelah operasi, saya ga keberatan sama sekali waktu hubby mengajak saya snorkeling😀.

Untuk ovarium yang diambil? Insha Allah saya ikhlas. Saya anggap itu sebagai voucher yang bisa ditukar di akhirat nanti🙂. Lagian, toh punya dua tanpa kista pun juga ga membantu saya hamil kan? Ujung-ujungnya semuanya adalah ketetapan Allah SWT, dan kita cuma harus tunduk dan patuh.

Juliana menyarankan saya untuk segera memulai program hamil lagi untuk menghindari tumbuhnya kista endometrosis. Saya harus berhenti sama sekali makan semua makanan yang terbuat dari kedelai, minuman kemasan termasuk air putih di botol/gelas plastik, dan makanan-makanan yang sifatnya estrogenic. Alhamdulillah, bulan lalu saya melakukan USG trans V (terpaksa, I have no choice >__<) dan folikel di my single fighter right ovary ukurannya 17.3 mm, which is good! Tapi karena belum rejeki, bulan ini saya masih mens.

Anyway, semua kejadian ini saya anggap sebagai pelajaran dan peringatan dari Allah SWT, bahwa hamil atau ga hamil itu adalah murni kehendak Allah SWT. Bukan karena akupuntur, bukan karena Juliana, bukan karena herbs, bukan karena dokter, bukan karena olahraga, bukan karena makanan sehat dsb. Ampuni aku ya Allah, jika selama ini hambaMu khilaf terhadap kenyataan ini. I learned it the hard way.

10 thoughts on “Story of My Life

  1. shan

    y Alloh sist..

    aku sampe nangis baca updatenya
    yang sabar y sist

    aku jg sama Lg TTC naturally
    ayo qt saLing mendoa’ kan semoga penantian qt berbuah manis
    *amiiin

    Reply
  2. sita

    Yang tabah ya sist
    membaca cerita anda bener2 membuat sy tambah yakin bahwa anak itu berharga sekali, dan bisa hamil merupakan anugerah
    saya jg lagi berjuang agar bs hamil
    semangat yah
    posisi sy juga di Bali, kapan kapan bs kita ketemu dan berbagi cerita

    Reply
  3. reni

    hai mba, aku termasuk pembaca yg seneng sekali ngikutin cerita di blog ini hehe. semangat ya… 2011 lalu jg ak operasi kista, dan ovarium sebelah kiriku di ambil😦 kista sudah 8cm. kanan juga ada tp kecil, dan dibersihkan sj sm dokter waktu operasi. Alhamdulillah 1thn setelah operasi sy sekarang hamil sudah 6bulan. tetep semangat ya walau dengan 1 ovarium, yakin ovarium kita sehat! Alloh pasti kasih jalan utk hamil.. kiss :*

    Reply
    1. sheislammie Post author

      Mbak Reni you made my day! Terimakasih Mbak utk support+doanya. Jazakillah khairan katsiran…Kiss+hug back to you🙂

      Reply
  4. Michelle

    Aku kemaren itu smpt tdk teratur mensnya mbak , ke bbrp dokter diblng bakal susah hamil, sy coba akupuntur,3blm kemudian hamil si, semangat ya mbakkkk

    Skrng anak sy ud umur 14 bln, eh skrng mens sy kacau lg,, progesteron sy rendah ne kayana, lg pgn coba cream progesteron.. Ad info ga mbak ?? Apakah bener2 bermamfaat ?? Tq mbak

    Reply
  5. rose

    kerenn…mungkin ini jawaban Alloh dari doa2 saya semalam…mabk..boleh tau dimana beli vitex nya??

    Reply
  6. rose

    mbak,…saya dah dapat man jing zi ditoko obat cina..yang pengen saya tanyakan, gmn cara minum dan dosisnya

    Reply
    1. sheislammie Post author

      Kalau saya sekarang seluruh obat Cina-nya diresepkan oleh dokter akupuntur saya, jadi dosisnya beliau yg mengatur. Cara minumnya direbus sejam pakai air 1 liter sampai sisa 2 gelas, setiap bungkus untuk 2x minum. Saya ga berani bilang dosisnya segimana karena saya bukan dokter dan setiap orang beda2, coba konsultasi dgn dokter akupuntur/sinshei🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s